Bagi sebagian besar orang, mengetahui keuntungan dari sebuah investasi termasuk pertimbangan utama untuk memilih jenis investasi. Salah satu metode perhitungannya dengan menggunakan rumus NPV.

Tidak hanya banyak digunakan untuk mengetahui nilai rugi atau untung dari suatu investasi, nyatanya rumus ini juga biasa digunakan untuk hal lain. Termasuk diantaranya untuk membantu para penggiat bisnis menentukan perencanaan keuangan yang tepat.

Rumus yang tidak begitu sulit digunakan bahkan bisa dengan mudah diingat membuatnya banyak jadi pilihan. Termasuk hasil sederhana, mudah dimengerti hingga cara hitungnya yang kilat jadi faktor lain yang semakin memudahkan penggunanya. Lalu bagaimana cara menghitung NPV?.

Penggunaan Rumus NPV dalam Dunia Bisnis 

Sebenarnya ada banyak rumus perhitungan yang banyak digunakan dalam dunia bisnis. Bergantung pada kebutuhannya, NPV jadi salah satu rumus perhitungan yang tidak kalah banyak digunakan khususnya oleh para investor. 

Rumus Net Present Value atau banyak disingkat NPV ini banyak digunakan saat seorang investor atau pelaku bisnis ingin mengetahui kelayakan suatu investasi. Tentu saja tidak hanya bisa dilakukan oleh pihak perusahaan besar, metode perhitungan ini juga bisa dilakukan oleh perseorangan.

Tidak tanggung, nilai investasi yang bisa diketahui lewat rumus ini bisa digunakan sebagai pegangan jangka panjang. Nilai profit yang terukur lewat metode hitung NPV bisa berupa nilai profit saat ini atau pun di saat yang akan datang.

Karenanya cara ini juga banyak dipegang sebagai metode ancang-ancang untuk menentukan jenis investasi mana yang akan dipilih atau dijalankan. Seperti halnya metode cap rate, metode hitung ini juga banyak digunakan diantaranya untuk:

  • Mengetahui nilai profit investasi saat ini
  • Mengetahui nilai profit di masa yang akan datang
  • Sebagai bahan pertimbangan untuk investasi
  • Mempertimbangkan kelayakan investasi jangka panjang
  • Menerjemahkan tingkat pengembalian dalam nilai dolar 
Baca Juga  Emiten Adalah: Pengertian, Fungsi, Tujuan dan Contohnya!

Umumnya perhitungan dengan metode NPV memang menghasilkan nilai profit dalam bentuk dolar. Karenanya konversi nilai diperlukan bila memang ingin mendapatkan hasil perhitungan dalam bentuk Rupiah.

Rumus NPV (Net Present Value)

Rumus Net Present Value atau NPV umumnya memiliki dua bentuk yang bisa digunakan untuk kasus yang berbeda beda. Menyesuaikan dengan kebutuhan dan jenis kasus masing-masing, berikut bentuk dari rumus Net Present Value.

1. Rumus Bila hanya Memiliki Satu Arus Kas

Pada perusahaan atau proyek dengan hanya satu alur kas akan melewati proses pengurangan dengan nilai investasi awal. Dalam proses perhitungan juga diperlukan keterangan nilai diskonto. Untuk lebih lengkapnya, rumus yang bisa digunakan sebagai berikut:

Net Present Value (NPV) = Arus Kas ÷ (1+i)^t – nilai investasi awal

Keterangan:

  • i = nilai pengembalian yang diminta (nilai diskonto yang diminta)
  • t = total periode waktu

2. Rumus Bila Memiliki Lebih dari Dua Arus Kas

Berbeda halnya bila suatu perusahaan atau seorang investor memiliki arus kas lebih dari satu. Rumus NPV yang digunakan berbeda namun bisa dibilang lebih sederhana. Untuk perhitungan nilai NPV jangka panjang, rumus yang digunakan adalah:

Net Present Value (NPV) = Jumlah nilai pendapatan target – nilai investasi awal

Jumlah nilai pendapatan target bisa diperoleh dari pengulangan rumus Arus Kas ÷ (1+i)^t sebanyak periode arus yang ditentukan. Nilai ‘i yang digunakan merupakan nilai berubah menyesuaikan dengan periode yang dihitung.

Baca Juga  Pemodal Adalah : Pengertian, Fungsi dan Jenisnya

Selebihnya bila nilai dari perhitungan menunjukkan angka positif, maka indikasi keuntungan lebih besar dari perkiraan. Maka investasi tersebut bisa dipilih dalam jumlah besar dan kemungkinan untung akan semakin besar pula. 

Contoh Studi Kasus Menggunakan Perhitungan NPV

Contoh perhitungan NPV bisa membuat calon pengguna rumus jadi lebih mengerti alur dan penggunaan rumus secara tepat. Untuk lebih jelasnya, berikut 3 contoh studi kasus dengan penggunaan rumus Net Present Value.

1. Studi Kasus Pertama

Sebuah perusahaan ingin melakukan perencanaan proyek dengan nilai investasi awal sebesar Rp 40.000.000,-. Nilai ini merupakan kalkulasi nilai keseluruhan yang disiapkan untuk satu proyek investasi terpilih.

Diperkirakan proyek ini akan menghasilkan arus kas tunggal sebesar Rp 60.000.000,- di tahun depan alias dalam satu periode ke depan. Perhitungan hanya satu periode dilakukan karena nilai aset investasi berpotensi berubah per tahunnya.

Bila asumsi nilai pengembalian sebesar 0,1 atau 10% per satu periode maka berapakah nilai yang tersisa di satu akhir periode tahunan proyek?

  • Rumus:

Net Present Value (NPV) = Arus Kas ÷ (1+i)^t – nilai investasi awal

    = [Rp 60.000.000,- ÷ (1+0,1)^1] – Rp 40.000.000,-

    = Rp 14.545.454,-

Karena hasil perhitungan positif maka kemungkinan mendapat keuntungan lebih besar bisa saja didapatkan. Berbekal nilai positif ini perusahaan atau investor akan menerima proyek ini. Dari hasil nilai Rupiah di atas juga bisa diubah ke bentuk dolar atau sebaliknya bila memang diperlukan. 

2. Studi Kasus Kedua

Seorang investor ingin mengambil kemungkinan investasi awal sebesar Rp 600.000.000,- di awal proyeknya. Investor ini juga berharap mendapatkan return bersih dari aset investasi senilai Rp 400.000.000,-.

Nilai return tersebut diasumsikan akan sama selama dua periode atau dua tahun berturut-turut tanpa ada pengurangan atau penambahan nilai. 

Baca Juga  Mengenal Net Present Value (NPV) sebagai Alat Penilaian Investasi yang Efektif

Bila nilai diskonto yang diminta sebesar 0,08 atau 8% maka berapa nilai NPV yang akan didapatkan?

  • Rumus:

Net Present Value (NPV) = [Arus Kas ÷ (1+i)^1] + [Arus Kas ÷ (1+i)^2] – nilai investasi awal

    = [Rp 400.000.000,- ÷ (1+0,08)^1] + [Rp 400.000.000,- ÷ (1+0,08)^2] – Rp 600.000.000,-

    = Rp 66.900.000,-

Seperti biasa, nilai positif maka bisa diindikasi sebagai salah satu kemungkinan positif. Maka investor bisa mengambil investasi aset ini dengan return minimal sebesar hasil perhitungan berturut-turut selama dua tahun ke depan. 

3. Studi Kasus Ketiga

Contoh NPV lain, asumsikan sebuah proyek melakukan investasi awal dengan nilai sebesar Rp 800.000.000,-. Nilai ini merupakan nilai awal yang telah mencakup nilai keseluruhan dari proyek investasi yang dipilih.

Nantinya proyek diproyeksikan akan memiliki pendapatan masing-masing pada tahun pertama sekitar Rp 100.000.000,-, pendapatan tahun ke dua Rp 250.000.000,- dan pendapatan tahun ke tiga sebesar Rp 350.000.000,-.

Berapakah nilai NPV bila nilai modal perusahaan sebesar 0.13 atau 13%?

  • Rumus:

Net Present Value (NPV) = [Arus Kas ÷ (1+i)^1] + [Arus Kas ÷ (1+i)^2] + [Arus Kas ÷ (1+i)^3] – nilai investasi awal

    = [Rp 100.000.000,- ÷ (1+0,13)^1] + [Rp 250.000.000,- ÷ (1+0,13)^2] + [Rp 350.000.000,- ÷ (1+0,13)^3] – Rp 800.000.000,-

    = Rp 174.070.278,-

Dengan hasil perhitungan positif maka proyek investasi ini bisa dengan aman digunakan oleh pihak perusahaan. Pengulangan metode hitung nantinya bisa digunakan untuk menentukan nilai untung atau rugi kedepannya dari proses investasi yang sudah berjalan.

Rumus NPV memang cukup banyak digunakan untuk memperhitungkan untung rugi dari suatu proses investasi. Namun proses penghitungan nilai perlu dilakukan secara teliti agar nilai yang dihasilkan akurat. Pastikan rumus yang digunakan sesuai dengan kasus yang tengah diselami.

Author