Seperti yang kita ketahui bahwa tren investasi beberapa tahun kebelakang ini mengalami kenaikan dari segi popularitas sehingga sebagian besar orang tertarik untuk menjadi pemodal. Dengan berkembangnya tren investasi ini banyak anak muda yang mulai mengikuti pendidikan finansial. Dalam tiga tahun terakhir, Bursa Efek Indonesia mencatat datangnya investor baru yang rata – rata berusia 25 tahun dan investor berusia 40 tahun kebawah mencapai 70% dari total investor pasar modal. Ini menunjukan jika anak muda Indonesia mulai melek investasi. 

Bursa Efek Indonesia juga melaporkan jika jumlah investor di Indonesia di tahun 2021 mengalami kenaikan sebesar dua kali lipat jika dibandingkan tahun 2020. Karena pandemi yang melanda Indonesia menyebabkan dibatasinya mobilitas masyarakat maka banyak yang mulai belajar berbagai macam hal, salah satunya cara berinvestasi dan menjadi pemodal yang baik. 

Pengertian Pemodal

Pemodal adalah suatu individu atau sekelompok orang yang melakukan penanaman modal. Kegiatan penanaman modal tersebut yang kita sebut sebagai investasi. Para pemodal inilah yang menunggu hasil atau keuntungan dari kegiatan investasi yang sudah mereka lakukan. Meskipun pemodal dan trader kerap kali disamakan tapi pada dasarnya mereka tidaklah sama pasalnya pemodal lebih berorientasi pada aktivitas investasi jangka panjang sedangkan trader lebih berfokus pada investasi jangka pendek, ini lah yang membuat mereka disebut sebagai trader.

Baca Juga  Investasi Jangka Pendek: Pengertian, Kelebihan dan Contohnya!

Tujuan dari penanaman modal adalah untuk mencapai tujuan keuangan dan meningkatkan jumlah imbal hasil. Salah satu tujuan dari investasi adalah mempersiapkan dana pensiun maupun mempersiapkan dana pendidikan. Untuk bisa mencapai tujuan tersebut, pemodal sangat bergantung dengan instrumen keuangan yang berbeda-beda. Jenis instrumen yang diinvestasikan sangat beragam, contohnya seperti saham, reksadana, valuta asing dan lain lain. Dalam melakukan investasi   

Tujuan Pemodal

1. Untuk mendapatkan keuntungan

Ketika seseorang memutuskan untuk menjadi pemodal tentunya adalah untuk mendapatkan keuntungan atau profit, ini karena dengan kita menyetorkan uang sebagai modal awal investasi maka kita akan memperoleh profit saat perusahaan mendapatkan profit. 

2. Untuk menambah aset dan kekayaan

Tentu saja menambah kekayaan merupakan salah satu tujuan para pemodal, oleh karena itu kita harus bisa melakukan analisis sebelum menentukan dan memilih investasi yang tepat sesuai dengan yang kita inginkan.

3. Untuk memenuhi kebutuhan di masa yang akan datang

Ini merupakan salah satu tujuan yang umum, karena jika kita sudah mulai berumur tentunya kekuatan kita untuk bekerja pastinya akan menurun. Karena yang akan terjadi di masa depan tidak bisa diprediksi, oleh karena itu kita perlu mempersiapkan cara agar bisa memenuhi kebutuhan di masa depan. Salah satu caranya adalah dengan berinvestasi

Baca Juga  Mengenal Net Present Value (NPV) sebagai Alat Penilaian Investasi yang Efektif

4. Menghindari inflasi

Seperti yang kita ketahui bahwa inflasi terjadi hampir di setiap tahun sehingga nilai mata uang akan mengalami penurunan, oleh karena itu kita perlu melakukan manajemen investasi  sehingga bisa meningkatkan pertumbuhan uang yang kita investasikan. 

Jenis – jenis pemodal

1. Pemodal konservatif 

Pemodal tipe ini memiliki profil risiko yang paling rendah karena pemodal ini menginginkan investasi yang aman dan tingkat return yang stabil. Bisa dikatakan pemodal tipe ini lebih memilih untuk berinvestasi di jenis investasi yang stabil dan beresiko rendah. Biasanya para pemodal pemula yang masuk ke pemodal konservatif ini. Jenis pemodal ini cocok untuk berinvestasi di reksadana pasar uang karena memiliki tingkat risiko yang rendah. Meskipun mempunyai risiko yang rendah, pemodal di reksadana akan tetap mendapatkan imbalan sesuai dengan jumlah yang kita investasikan. 

2. Pemodal moderat

Pemodal dengan tipe ini memiliki profil risiko yang sedang, yang dimaksud sedang disini ialah, pemodal ini siap dengan tingkat tingkat fluktuasinya tidak seberapa, tetapi masih belum berani untuk mengambil risiko. Pemodal tipe ini masih bisa bertoleransi dengan risiko, tetapi tidak mencakup risiko yang besar, tetap di tengah – tengah. Fluktuasi pasar pun sudah mulai dipahami oleh pemodal tipe ini sehingga cocok untuk berinvestasi di reksadana pendapatan tetap dan reksadana campuran.

Baca Juga  ROE Adalah : Pengertian, Fungsi, Rumus, dan Cara Menghitungnya!

3. Pemodal agresif

Pemodal tipe ini memiliki profil risiko yang tinggi, pemodal ini sudah sangat siap jika investasi yang mereka lakukan berkurang atau hilang demi return yang lebih tinggi. Biasanya pemodal agresif ini sudah mempunyai banyak pengalaman. Tipe pemodal biasanya sudah terbiasa dengan fluktuasi harga pasar modal dan fluktuasi  yang tergolong ekstrim sekalipun. Pemodal agresif ini juga tidak takut untuk menanam modal di instrumen investasi yang memiliki risiko tinggi, cocok berinvestasi di reksadana saham.

Author